SEKOLAH SAMBIL KERJA KULAKUKAN DENGAN IKHLAS

 

Sekolah Sambil Kerja Kujalankan Dengan Ikhlas

Saya dilahirkan oleh keluarga yang tak mampu. Dariseorang buruh tani. Hidup bersama 6 saudara  : 2 laki-laki dan 4 perempuan . Dengan saya perempuannya menjdi 5 orang. Kakak yang pertama bekerja di Dipenda, Kaka Kedua bekerja di sebuah pabrik swasta, kakak ke 3 sebagai ibu rumah tangga, kakak  ke empat sebagai PNS, Kakak ke lima  sebagai ibu rumah tangga dan kakak ke 6 adalah seorang perempuan. Dan ke tujuh adalah saya sebagai PNS. Dikala kecil hidup keluarga ini sangat susah . Kakak saya ke 5  selalu ikut  emak mencari gabah sebagai buruh tani keliling kemana-mana untuk mencukupi kebutuhan makan setiap harinya. Saya masih kecil. Waktu itu saya masih sekolah di bangku Sekolah Dasar. Kakak-kakak Sebagian besar pendidikan kurang. Sehingga tidak bekerja  seperti wanita- wanita  sekarang ini.

Rumah saya dekat dengan keluarga yang berada istilah kerennya adalah kaya . Kepala keluarganya seorang tentara  dan istri seorang guru Sekolah Dasar. Pasangan suami istri itu mempunayi dua orang anak. Anak yang pertama adalah perempuan cerdas, pandai , dan  trampil, namun anak ini cacat pada kakinya. Sehingga jalannya   perlu dibantu dengan digandeng. Sedangkan putra yang satunya / atau ke dua adalaah seorang laki, kulit hitam  manis dan pendiam. Pasangan suami istri ini  khususnya ibu guru masih mempunyai seorang ibu  dengan kegiatan setiap harinya membuat es lilin dan membuat makanan kecil untuk dijual.

Rumah saya dekat  dengan tetangga itu , mereka  selalu menyuruh saya untuk membantu. Baik ketika berangkat ke sekolah maupun pulang dari sekolah/ melaksanakaan pekerjaan di rumah. 

Kebetulan saya dengan putri pak tantara pertama adalah seusia . Dan sekolahnyapun bersama/ sekelas. Jika saya ke sekolah cukup berjalan kaki kira-kira  membutuhkan waktu 10 menit. Setiap berangkat sekolah saya selalu berdua dengan  anak tetangga yang dibilang orang berada tadi  yang bapaknya seorang tantara. Dan ibunya seorang guru yang sekaligus saya anggap sebagai ibu saya sendiri. Karena saya sejak kecil ikut  membantu pekerjaan  di keluarga itu. Setiap hari saya selalu membawakan tas dan menggandeng  putri pak tentara dan ibu guru. Saya selalu menggandeng tangannya dan membawakan tas dan lain-lain yang dibawanya ke sekolah. Mengapa ? Karena putri pak tentaraa dan bu guru itu cacat sejak kecil . Waktu kecil pernah sakit deman dan pernah jatuh. Sehingga menimbulkan kaki cacat, Maka sayalah yang selalu setia menemani , menggandeng putri tersebut.  Dari berangkaat  dan pulang  sekolah, karena seusia dengan saya. Dari kelas 1 sampaai dengan kelas 6 selalu satu kelas.

Di runah saya juga membantu pekerjaan  antara lain ikut membantu memasak, membungkus es lilin mencuci baju, seletika,  menyapu , melantai, disuruh belanja dan lain-lain.  Itu saya kerjakan dengan ikhlas. Maklum sewaktu kecil juga sangat takut dengan yang namanya tentara. Takut kalau ditembak. Maklum anak kecil. Itu pikiraan sewaktu kecil. Karena pak tentara itu punya pistol. Sehingga saya selalu mematuhi apa yang menjadi perintahnya. Maklum anak orang  tidak mampu. Butuh uang untuk makan dan untuk uang saku sekolah. Sehingga sewaktu kecil kami hidup menjadi seorang pembantu di sebuah rumah tangga. Sambil menimba ilmu di sekolah. Dengan bekerja membantu keluarga pak tentara saya mendapatkan uang untuk  bayar SPP dan untuk  uang saku saya setiap harinya. Jadi sejak kecil saya sudah berusaha untuk mencari uang untuk keperluan sekolah. Sambil membantu orang tua meringankan beban anaknya ini.

Setiap bulan saya dari hasil kerja di rumah teman itu  diberi uang . Uang itu saya gunakan untuk membayar sekolah . Kalau dulu uang SPP. Disamping kadang kakak memberi untuk bayar SPP. Sehingga  saya berusaha untuk menabung. Pagi bangun pagi membntu membuat dadar gulung yang didalamnya diberi enten enten ( kelapa agak muda yang diparut diberi gula jawa dan dimask dimasukkan ke dalam dadaran tepung dan digulung) . Enten-enten itu dibawa  ketika berangkat sekolah sambil mengandeng tangan putri pak tentara tadi dan  menaruh tas di pundak kanan dan mebawa enten-enten ke sekolah. Untuk ditipkan di koperasi sekolah. Pulang juga membawa tempat bekas enten-enten  yang terjual di koperasi sambal membawa uang. Sampai di rumah uang saya serahkan kepada orang tua bu guru/ mertua pak tentara yang serumah. Siang hari saya melaksanakan tugas seletika baju-baju  , sore hari  membantu bungkus es lilin yang dititipkan juga di kopearsi sekolah. Tetapi untuk es lilin ini ada anak laki-laki/ keponakan yang membawanya ke sekolah. Jadi  saya  hanya membawa  enten-enten dan menggandeng tangan  serta membawakan tas nya dan buku-buku saya. Dan sore sekitar jam 17.00 saya mencuci baju-baju  dan sekaligus menjemurnya.

Kegiatan belajar  saya lakukan  setelah magrib. Saya belajar sendiri tanpa ada teman. Buku-buku pelajaran tidak punya. Saya pinjam  putri pak tantara . Jika ada PR saya kerjakan sendiri Mau tanya dengan  ibu Guru / ibu putri  itu takut. Terkadang belajar di depan TV saya tak sadarkan diri tertidur. Hingga kaget TV melihat saya tidur. Ini karena capeknya saya dengan pekerjaan sehari-hari.  Begitu pekerjaan saya setiap hari disamping sekolah juga bekerja mencari uang sendiri.  Kegiatan ini saya lakukan selama saya bersekolah di SD . Selama enam tahun ini semuanya say lakukan dengan ikhkas tanpa paksaan. Agar bisa sekolah sambal mendapatkan uang . Saya mensyukuri segalanya apa yang saya laukan dan apa yang saya kerjakan. Saya tidak merasa malu dan saya merasa  bangga kecil-kecil sudah bisa cari uang.

Disuatu hari   di ruang kelas  1saya duduk no 2 pas  berada di belakang putri tersebut. Putri tersebut memiliki alat tulis yang lengkap dan dimasukkan di dalam dosgrip. Di dalaam dosgrip lengkap sekali isinya antaraa lain, pensil, mistar penghapus, ongotaan,  bolpoin,  dan lain-lain.  Karena takutnya saya dengan anak keluarga berada dan  anak pak tentara saya selalu diam ,  manut   dan mengalah. Salah satu diantaranya yang sampai sekarang selalu membekas dan tak terlupakan.

 Di kelas I anak  pak tantara/ ibu guru yang  pinter,  cerdas baik dalam bidang ilmu pengetahuan maupun ketrampilan. Nilai selalu unggul ,  tinggi dan juara kelas. Memang ini merupakaan anugerah Tuhan Yang Maha Esa kelebihan anak yang mempunyai kelainan fisiknya. . Setiap hari putri ini selalu meruncingkan pensil. Selain digunakan untuk menulis juga selalu memasukkan runcingan pensil ini ke kulit kaki   saya sebelah kanan. Putri ini duduknya paling depan. Pura-pura memasukkan kepala di bawah meja dan jongkok sambil memegang pencil yang runcing lalu meegang kaki saya peerlahan dan  memasukkan ke bekas masukan pensil kemarinnya. Begitu setiap hari. Saya diam membisu tak berani lapor kepada guru kelas 1.  Apalagi kepada ibu mapun ayahnya pak tentara yang menurut saya menakutkan. Hanya meringis merasakan sakit di kaki. Bahkan menangis  dan mata merah menahan rasa sakit dikaki yang dimasukkan dan digoyang-goyangkan kekanan kekiri dan diputar-putar sakit rasanya.  Dan takut padanya. Setiap hari selalu begitu terhadaap saya . Saya tetap diam membisu. Dan setiap hari selalu  tetap setia menggandeng tangan dan membawakan tasnya. Jika  putri tersebut jatuh saya dengan setia dan sabar membangunkan , memegang tangan dan berusaha untuk menegakkan berdiri dan kembali menggandeng tangan. Walaupun setiap hari menyakiti kaki saya . Tetap dengan setia dan tulus selalu mengandengnya.

Demi ilmu aku ikhlas semua yang kujalani hingga kini aku menjadi oarng yang  bisa memberikan ilmu kepada orang lain dan dapat bermanfat. Bersekolah, bekerja hingga kini kujalankan  dan kulakukan dengan hati dan ikhlas.  Terimakasih kuucapkan kepada pak tentara dan ibu guru yang baik hati . Berkat ibu yang baik hati kini saya menjadi orang yang dapat mandiri dan selalu bekerja keras demi kemajuan bangsa dan negara.  Dan  tak lupa saya selalu bersyukur apa yang kudapatkan selama ini. Semoga anak-anak saya dan cucu-cucu saya lebih baik dan beruntung dibandingkaan dengan saya sewaktu kecil.

Inilah sedikit pengalaman sewaktu saya masih duduk di kelas 1  anak dari keluarga yang kurang memperhatikan Pendidikan karena keadaan ekonomi orang tua. Namun sekarang saya sudah dapat menikmati hasil jerih payah orang tua, kakak, ibu dan bapak tEntara yang saya takuti namun baik hati.

Salam blogger

Rifatun

Komentar