Ketekunan Meraih Kesuksesan
Ketekunan
Meraih Kesuksesan
Disamping
mengajar anak-anak persiapan ujian, juga membimbing anak-anak dalam rangka
persiapan lomba mata pelajaran rutin dilaksanakan setiap tahun. Lomba Olympiade
Sains, IPS, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, Mengarang dll. Dalam melatih
anak ini saya jadwalkan rutin setiap hari Rabu sore dan hari Minggu. Hari Rabu
melatih di sekolah, hari Minggu melatih di rumah. Sehingga anak-anak dengan
saya selalu dekat dan akrab. Selain akrab dengan anak-anak juga akrab dengan
orang tuanya. Orang tuanya merasa senang dan beruntung. Dari hasil rutinitas
berlatih itu selalu berhasil menjadi juara. Baik di tingkat kecamatan, tingkat
kota maupun sampai maju di tingkat Provinsi Jawa Tengah. Kalau maju ke tingkat
Provinsi Jawa Tengah selalu belum berhasil. Masih kalah dengan daerah lain yang
digemleng dan diperhatikan oleh pemerintah daerahnya. Bahkan daerah lain banyak
yang mendatangkan guru yang berpengalaman hebat. Terkadang kalau sudah maju ke
tingkat provinsi kami merasa minder. Paling banter Tingkat Provinsi baru juara
2. Namun itu semua saya syukuri. Bisa berhasil meraih prestasi. Juga dalam
ujian anak-anak masuk menjadi 5 besar sudah alkhamdullillah. Saya sering berfikir. Semoga mengantarkan
anak-anak maju lomba ke tingkat provinsi ini tidak hanya anak orang tua lain.
Sayapun menginginkan anak kandung sendiri bisa maju lomba sampai ke tingkat
provinsi. Saya pernah mengutarakan hal ini dengan teman saya. Kapan ya pak kita
bisa mengantarkan anak kandung sendiri
maju lomba sampai ke tingkat provinsi. Akhirnya cita-cita saya tercapai dapat
mengantarkan anak kandung sendiri. Pada waktu itu saya mengantarkan anak saya
yang barep maju lomba untuk mata pelajaran IPU. Dan teman saya mata pelajaran matematika.
Dengan jerih payah berlatih rutin dan penuh semangat setiap hari anak saya dan
anak kandung teman hanya memperoleh juara Harapan 2. Alkhamdullillah. Tidak
memalukan meskipun hanya urutan ke 5/harapan 2
Karena sering membimbing mengikuti
lomba anak- anak, Dinas Pendidikan memperhatikan saya. Saya sering dikirim
mengikuti diklat-diklat baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota
setempat, Dinas Pendidikan Provinsi, LPMP Provinsi Jawa Tengah, maupun
mengikuti Diklat tingkat Nasion di Semarang, Surabaya, Malang, Jakarta, Bogor,
Yogyakarta dan lain-lain. Saya sangat bersyukur bisa mengikuti Diklat
kemana-mana dan bertemu kawan dari seluruh daerah di Jawa Tengah dan penjuru
tanah air Indonesia ( jika diklat di tingkat Nasional). Sehingga
menambah kawan, pengalaman. wawasan dan ilmu pengetahuan.
Ilmu yang saya dapatkan dari berbagai
diklat menurut saya masih kurang. Karena saya haus dengan ilmu pengetahuan,
maka saya nekad mengikuti kuliah di sebuah Universitas swasta di kota saya. Dengan
bayar kuliah dari gaji setiap bulannya. Pagi hari berangkat naik angkota sambil
menggendong dan menggandeng anak dan saya titipkan orang tua, saya mengajar.
Pulang mengajar berangkat kuliah. Kuliah berlangsung setiap harinya sekitar 5-6
jam/ 2 mata kuliah. Pulang sudah hampir
magrib. Pulang magrib mengambil anak-anak kecil di rumah orang tua. Saya bawa
pulang ke rumah. Begitu setiap hari saya jalani dengan iklhas dan dengan hati.
Dengan bekal semangat, kesungguhan dan niat saya dapat menyelesaikan kuliah S1
dikota saya. Alkhamdulillah.
Dua tahun setelah saya lulus S1 ada
teman yang mengajak saya untuk melanjutkan kuliah S 2 di sebuah Universitas di
lain kota. Saja ijin suami tetapi tidak mengijinkan. Saya sangat sedih. Lalu
saya diam-diam ikut daftar dan mengikuti ajakan teman untuk kuliah. Saya ikut tes TOFOEL dan Psikologites dan
dapat diterima menjadi Mahasiswa di sebuah Universitas Pasca Sarjana di kota
Surakarta. Kuliah dilaksanakan pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Jumat siang,
Sabtu siang dan Minggu pagi sampai sore. Kami berlima dari kota menuju ke kota
dimana saya kuliah. Berangkat, pulang, membuat tugas selalu bersama. Hari demi
hari, minggu demi mingu, bulan demi bulan dan sampai ke tahun tidak terasa. Panas, hujan tak terasa. Satu setengah tahun
saya menjalani kuliah. S 2. Walau tidak
diijinkan suami. Akhirnya saya menjelaskan kepada suami bahwa saya mohon maaf
karena saya nekad mendaftar dan mengikuti tes masuk Pasca Sarjana. Akhirnya
suami mengijinkan. Kebetulan anak-anak sudah agak besar tidak terlalu repot. Anak-anak
sudah berani pulang sendiri dari sekolah. Kuliah S 2 dengan bekal nekad, penuh
perjuangan dan doa. Dimana pas tes Tesis ini bersaman dengan anak-anak didik
saya juga melaksanakan USBN. Ya Allah semoga saya dan anak didik saya diberi
kelancaran, kesuksesan dan kemudahan. Saya dan anak-anak didik saya dapat mengerjakan
ujian dan lulus dengan hasil yang terbaik. Saya di tes oleh 3 orang dosen: 2
dosen pembimbing dan 1 dosen tamu. Ujian Tesis sehari ada 4 orang. Kebetulan
saya giliran pertama. Dosen pembimbing menanya-nanya dan saya menjawab dengan
lancar dan akhirnya dosen tamu memberi pertanyan. Apa, Mengapa dan Bagaimana.
Alkhamdullilah dapat saya jawab. Waktu kurang lebih 10 menit ujian tesis
selesai. Langsung hari itu dinyatakan lulus. Alkhamdullilah. lulus dengan hasil
memuaskan dan dapat mengikuti wisuda pasca sarjana urutan pertama.
Setelah lulus Pasca Sarjana oleh
Dinas Pendidkan Kota memberi kesempatan untuk Menyusun Portofolio sebagai
persyaratan mengajukan Sertifikasi Guru. Dengan bekal semangat dan
sungguh-sungguh berkas usulan kami kumpulkan dan kami foto copy. Cukup banyak
portofolio yang saya buat dan sangat tebal. Akhirnya dapat lolos Sertifikasi
dengan berkas portofolio.
Selang dua minggu saya mendapatkan
surat dari dinas pendidikan untuk amengikuti tes seleksi guru berprestasi.
Dengan niat, semangat, percaya diri mengikuti seleksi Guru berprestasi. Alkhamdulillah
tingkat kota menjadi juara 1dan maju ke tingkat provinsi. Dengan penuh
perjuangan saya menyiapkan/ mempersiapakan diri untuk mengikuti seleksi Guru
Berprestasi tingkat Provinsi. Maju tingkat Provinsi juga harus membuat
Portofolio, Karya Tulis dan Karya Inovasi. Ini semua saya siapkan dengan kerja
keras dan penuh harap. Semoga bisa mendapatkan yang terbaik. Saya menjalani tes
di Semarang dan menginap selama tiga hari. Berjuang untuk mendapatkan prestasi
yang terbaik. Selama tiga hari kegiatan full on time. Alkhamdullilah dapat menjalani tes, wawancara
dan lain-lain. Tibalah pengumuman juara. Ternyata yang disuruh maju ke panggung
hanya juara 1, 2 dan 3. Saya mendapatkan urutan no. 5. Alkhamdulillah. Tidak
terlalu memalukan. Walaupun tidak jadi juara tetapi ini semua sebagai
pengalaman dalam mengikuti lomba. Dalam lomba tentunya ada yang menang, ada
yang kalah. Saya tetap semangat.
Selang satu bulan mendapatkan surat
tugas untuk mengikuti tes Calon Kepala Sekolah dari Kepala Dinas Pendidik. Di
dalam surat tugas itu sudah ada nama-nama Bakal Calon Kepala Sekolah sejumlah
40 orang. Saya salah satu di dalamnya. Oh bagaimana ini ? Apa yang harus saya
pelajari? Harus tanya kepada siapa? Batin saya bertanya. Pantaskah saya ini
nanti jadi Kepala Sekolah? Namun karena ini tugas entah hasilnya seperti apa
harus mematuhi bersifat loyal terhadap pimpinan. Dan harus mau menerima apa adanya. Akhirnya
saya mengikuti tes Calon Kepala Sekolah yang diselenggarakan oleh LPMP
Semarang, Pelaksanaan di kota sendiri. Kami ber 40 mengikuti seleksi. Seleksi
dilaksanakan selama 2 hari hari pertama tes akademik manajerial dan tes hari
kedua presentasi penyampaian makalah. Saya jalani tes Calon Kepala Sekolah itu
dengan iklhas. Dan dua hari kami lalui dengan lancar. Pikiran saya yang
terpenting ikut. Hasil tidak saya dipikirkan.
Bagi
saya tahun ini merupakan tahun perjuangan luar biasa sebagai titik puncak
kegiatan: Ujian Siswa bersamaan hari Ujian S2 (Tesis), Seleksi Guru Berprestasi
Kota dan Provinsi, Pengumpulan Berkas Portofolio Sertifikasi Guru, Tes Calon
Kepala Sekolah, Diklat dan kegiatan kecil lainnya.
Kurang lebih 1 tahun saya mengikuti
tes calon Kepala Sekolah. Tiba-tiba ada teman yang datang ke sekolah dan
berbincang-bingang tentang kegiatan olahraga yag saya ikuti/ lakukan setiap
hari Minggu sore dengannya. Kami berbincang-bincang lebih kurang 1 jam.
Akhirnya teman saya pamit dan sebelum pamit menyerahkan selembar surat kepada
saya. Surat saya buka. Ya Allah ternyata surat Undangan Pelantikan Kepala
Sekolah untuk besok pagi di ruang kerja walikota. Kenapa di ruang kerja
walikota? Oh… ya Allah apa yang harus saya lakukan ? Kaki tangan dan seluruh tubuh
sepertinya tidak ada tulang yang menopang badan untuk berdiri tegak. Lemas. Saya
harus bagaimana? Saya nanti dimana? , bisakah saya menjadi seorang pemimpin?.
Pikiran berkecamuk melayang-layang menjadi satu. Saya berjalaan tiada daya.
Menuju ke Ibu Kepala Sekolah. Saya sodorkan surat itu dan saya diberi ucapan
selamat. Batin takut dan berkecamuk tak karuan. Besok harus tepat waktu datang
ke ruang dinas Walikota. Besok harus datang tepat waktu dan memakai tanda-tanda
yang lengkap seperti papan nama, Id Card dan lencana Korpri. karena sebagai ASN
harus disiplin. Apalagi mau bertemu pak Wali di ruang kerjanya
Pulang
dengan lemah lunglai saya berjalan menuju rumah. Pikiran tetap saja berkecamuk
tak karuan. Sampai di rumah saya ceriterakan kepada suami. Besok saya dilantik
menjadi Kepala Sekolah entah dimana. Saya tidak tahu. Ya disyukuri ini adalah
amanah. Semoga dapat menjalani/ melaksanakan tugas suci ini dengan ikhlas dan
diridhoi Allah SWT.
Malam hari saya tidak bisa
membayangkan apa yang akan terjadi besok siang. Saya berpikir berapa jumlah
yang akan dilantik? Siapa saja? Saya harus bagaimana? Apa yang akan terjadi
besok di ruang walikota. Selama ini belum pernah berada di ruang kerja wali kota.
Sambil tiduran membayangkan apa yang akan terjadi besok, saya tertidur hingga
pagi hari. Seperti biasa bangun pukul 03.00 WIB dan mengambil air wudhu untuk
melaksanakan sholat tahajut, menyiapkan makan untuk hari ini, bersih-bersih
rumah. Mandi ganti baju berangkat ke sekolah. Melaksanakan pekerjaan rutin. Kebetulan
hari ini anak-anak kelas VI sudah selesai melaksanakan ujian. Anak-anak tidak berangkat ke sekolah. Tinggal menunggu
hasil ujian. Pekerjaan saya di sekolah pagi ini merekap nilai ujian di sekolah
dan menunggu hasil ujian dari Dinas. Dan kebetulan nilai rapor juga sudah
selesai di kerjakan.
Akhirnya
pukul 10.00 WIB saya ijin kepala sekolah dan teman-teman berangkat menuju ke
Pemerintah kota. Pusat kota pemerintah dan menuju ruang tamu. Dari ruang tamu
ditanya dan dipersilahkan duduk sambil menunggu dipersilakan masuk ke ruang
Kerja Walikota. Saya menengok kesana kemari tidak ada teman ataupun guru lain.
Siapa saja yang dapat undangan? Selang beberapa menit datang teman yang sudah
menjadi Kepala Sekolah 2 orang teman yang saya kenal baik. Saya bertanya: Apakah undangan pelantikan? Ternyata benar
kami bertiga mendapatkan uandangan yang sama di tempat yang sama. Pikiran saya dilantik sebagai Kepala Sekolah
baru hanya seorang, dua orang sudah menjadi kepala sekolah. Pikiran saya
kemungkinan ada pergeseran tempat. Karena saya mengetahui kekosongan tempat
hanya ada satu. Saya orang baru tidak mungkin ditempatkan di sekolah yang besar
dan terkenal. Batin saya selalu bertanya-taanya dan mengandai-andai. Ehmm….
Tepat
pukul 10.30 WIB kami dipanggil untuk memasuki ruang kerja walikota. Ternyata di
ruang Walikota hanya ada 9 orang. Langsung
pelantikan sederhana dilaksankan. Ternyata kepala sekolah baru hanya saya. Di
ruang Walikota ini ada 9 orang yaitu saya, 2 orang Kepala Sekolah, Walikota,
Kepala Dinas Pendidikan setempat, Sekretaris Daerah dan 2 orang Kepala Unit
Pelaksana Teknis di tingkat Kecamatan dan Protokol/ Pembawa acara. Saya beserta
dua orang teman berdiri berderet paling depan. Dan dibacakanlah surat keputusan
Walikota tentang: Pengangkatan, Pemberhentian Jabatan Kepala Sekolah. Ternyata
memang benar pikiran saya. Jabatan Kepala Sekolah baru ditempatakn di
tempat A, Kepala Sekolah di A di tempatkan di B, Jabatan Kepala Sekolah lama di
B dipindahkan ke C. Kami bertiga dilantik dan disaksikan oleh Walaikota, Kepala
Dinas Pendidikan, Sekretaris Daerah dan 2 orang Kepala UPTD Kecamatan. Setelah
dibacakan kami menandatangani Berita Acara Sumpah dan Janji Jabatan Sebagai
Kepala Sekolah Baru. Setelah Walikota memberi kata sambutan dan nasihat-nasihat
lalu istirahat. Kami dipersilakan untuk menikmati hidangan yang telah
disediakan. Kami menikmati hidangan sebentar, lalu pulang.
Lima hari setelah pelantiakan kami
dipanggil oleh Kepala Dinas Pendidikan di ruang Kepala Dinas untuk melaksanakan
Serah terima jabatan Kepala Sekolah lama ke baru. Serah terima diadakan di
ruang khusus yaitu ruang tamu Kepala Dinas Pendidikan. Karena malam hari nanti
kami harus sudah melaksanakan tugas untuk menerima hasl ujian anak-anak. Pelaksanaan
lancar. Acara selesai, kami pulang dan bersiap-siap untuk ke sekolah baru.
Rencana setelah menerima hasil ujian esok hari.
Malam
hari kami langsung melaksanakan tugas untuk menerima hasil ujian. Hati saya berdebar. Hasil dibagikan satu
persatu, saya menerima hasil ujian sekolah baru. Oh…. Saya kaget melihat hasil
di luar dugaan. Saya terperanjat melihat hasil itu. Hasil yang diperoleh SD
baru sungguh sangat mengecewakan. Jauh dari harapan selama ini di SD lama
tempat saya mengajar yang penuh perjuangan. SD lama diterima dan saya lihat
sungguh sangat memuaskan. Hasil anak-anak bagus. Hati berkecamuk suka dan
duka. Suka karena sekolah lama yang saya tinggalkan nilai bagus, duka karena
sekolah baru nilai rata-rata kurang dari standar. Namun apa boleh buat. Ini
adalah cambuk bagi saya. Bagaimana nanti ke depan sekolah ini harus ada
perubahan. Dari hasil no satu dari bawah
berubah minimal ada di tengah sekolah-sekolah di kota. Saya harus mau menerima
apa adanya. Usaha nanti setelah saya melaksanakan tugas di sekolah baru. Toh
ini baru awal menerima tugas baru sebagai kepala sekolah dan harus berjuang.
Saya menenanagkan diri sendiri. Saya nanti akan berusaha bagaimana merubah
pembelajaran yang bermanfat dan dapat memuaskan semua pihak antara lain siswa,
guru dan juga orang tua. Saya harus bisa. Selama ini saya di sekolah lama
selalu berusaha baik akademik maupun non akademik memperoleh hasil yang
terbaik. Di sekolah baru ini nanti juga akan berusaha menangani sekolah seperti
ini dengan semangat dan berjuang bersama-sama dengan guru yang berada di
sekolah baru. Kalau kita bekerja dengan ikhlas, sungguh-sungguh dan berdoa
kepada Allah hasilnya pasti bagus. Insya Allah.
Inilah
hijrah saya dari sekolah besar murid banyak pindah sebagai Kepala Sekolah Baru
di sekolah pinggir dengan murid sedikit. Dengan liku-liku yang berbeda antara
sekolah satu dengan sekolah yang lain. Dengan karakter dan suasana yang beda.
Saya akan berusaha keras untuk memajukan anak-anak bangsa baik akademik maupun
non akademik. Supaya terwujut sekolah yang berkwalitas menjadi anak-anak yang memiliki
ilmu pengetahuan luas, berkarakter, berkepribadian yang tangguh sesuai dengan
identitas bangsa Indonesia. Dan sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan
bangsa Indonesia. Semoga berhasil. Maju
pantang menyerah. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Bekerja dengan
ikhlas.
Salam blogger Indonesia
Rifatun

Komentar
Posting Komentar