Ketekunan Meraih Kesuksesan

 

Ketekunan Meraih Kesuksesan

     


 Saya adalah seorang guru mengajar di sebuah sekolah tempat saya sekolah dulu. Begitu lulus sekolah guru, saya mengabdikan diri sebagai guru Wiyarta Bakti di sekolah dekat dengan tempat tinggal. Semua pekerjaan kujalani dengan ikhlas dan penuh semangat. Berangkat pagi pulang sore itu sudah menjadi kebiasan. Waktu saya banyak berada di sekolah. Termasuk jam terbang mengajar saya lebih banyak dibandingkan dengan guru senior. Jam mengajar lebih dari 24 jam perminggu. Bayangkan pelajaran yang saya ampu adalah Olahraga Kelas 1 s.d. kelas 6. Setiap kelas 4 jam pelajaran. Ketrampilan kelas 1 s.d 3:  6 jam pelajaran, IPS kelas 6:  3 jam pelajaran dan PKn Kelas 5 sebnyak 2 jam pelajaran. Sehingga total selurunya dalam 1 minggu adalah 35 jam pelajaran. Namun itu semua saya nikmati dengan ikhlas. Sehingga tidak menjadi beban. Setelah mengajar selama 4 tahun, saya mendaftarkan diri lewat tes dan tambal sulam pegawai dan akhirnya lolos dan diangkat menjadi CPNS. Menjadi CPNS diberi tugas mengajar / wali kelas 5 selama 2 tahun, Karena saya dianggap lebih muda dan mampu saya dinaikan mengajar di kelas 6. Dengan penuh semangat saya melaksanakan tugas. Alkhamdulillah selama mengajar di kelas enam peringkat yang kami dapatkan antara 1 s.d 5 selama Ebatana/ UN/ USBN berlangsung. Kedatangan saya di sekolah selalu lebih dan mulai mengajar dari jam 00. Sampai sore hari sekitar pukul 15.00 WIB bahkan terkadang sampai pukul 16.00 WIB. Begitu setiap harinya.

Disamping mengajar anak-anak persiapan ujian, juga membimbing anak-anak dalam rangka persiapan lomba mata pelajaran rutin dilaksanakan setiap tahun. Lomba Olympiade Sains, IPS, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, Mengarang dll. Dalam melatih anak ini saya jadwalkan rutin setiap hari Rabu sore dan hari Minggu. Hari Rabu melatih di sekolah, hari Minggu melatih di rumah. Sehingga anak-anak dengan saya selalu dekat dan akrab. Selain akrab dengan anak-anak juga akrab dengan orang tuanya. Orang tuanya merasa senang dan beruntung. Dari hasil rutinitas berlatih itu selalu berhasil menjadi juara. Baik di tingkat kecamatan, tingkat kota maupun sampai maju di tingkat Provinsi Jawa Tengah. Kalau maju ke tingkat Provinsi Jawa Tengah selalu belum berhasil. Masih kalah dengan daerah lain yang digemleng dan diperhatikan oleh pemerintah daerahnya. Bahkan daerah lain banyak yang mendatangkan guru yang berpengalaman hebat. Terkadang kalau sudah maju ke tingkat provinsi kami merasa minder. Paling banter Tingkat Provinsi baru juara 2. Namun itu semua saya syukuri. Bisa berhasil meraih prestasi. Juga dalam ujian anak-anak masuk menjadi 5 besar sudah alkhamdullillah.  Saya sering berfikir. Semoga mengantarkan anak-anak maju lomba ke tingkat provinsi ini tidak hanya anak orang tua lain. Sayapun menginginkan anak kandung sendiri bisa maju lomba sampai ke tingkat provinsi. Saya pernah mengutarakan hal ini dengan teman saya. Kapan ya pak kita bisa mengantarkan anak kandung   sendiri maju lomba sampai ke tingkat provinsi. Akhirnya cita-cita saya tercapai dapat mengantarkan anak kandung sendiri. Pada waktu itu saya mengantarkan anak saya yang barep maju lomba untuk mata pelajaran IPU. Dan teman saya mata pelajaran matematika. Dengan jerih payah berlatih rutin dan penuh semangat setiap hari anak saya dan anak kandung teman hanya memperoleh juara Harapan 2. Alkhamdullillah. Tidak memalukan meskipun hanya urutan ke 5/harapan 2

            Karena sering membimbing mengikuti lomba anak- anak, Dinas Pendidikan memperhatikan saya. Saya sering dikirim mengikuti diklat-diklat baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota setempat, Dinas Pendidikan Provinsi, LPMP Provinsi Jawa Tengah, maupun mengikuti Diklat tingkat Nasion di Semarang, Surabaya, Malang, Jakarta, Bogor, Yogyakarta dan lain-lain. Saya sangat bersyukur bisa mengikuti Diklat kemana-mana dan bertemu kawan dari seluruh daerah di Jawa Tengah dan penjuru tanah air Indonesia   ( jika diklat di tingkat Nasional). Sehingga menambah kawan, pengalaman. wawasan dan ilmu pengetahuan.

            Ilmu yang saya dapatkan dari berbagai diklat menurut saya masih kurang. Karena saya haus dengan ilmu pengetahuan, maka saya nekad mengikuti kuliah di sebuah Universitas swasta di kota saya. Dengan bayar kuliah dari gaji setiap bulannya.  Pagi hari berangkat naik angkota sambil menggendong dan menggandeng anak dan saya titipkan orang tua, saya mengajar. Pulang mengajar berangkat kuliah. Kuliah berlangsung setiap harinya sekitar 5-6 jam/ 2 mata kuliah.  Pulang sudah hampir magrib. Pulang magrib mengambil anak-anak kecil di rumah orang tua. Saya bawa pulang ke rumah. Begitu setiap hari saya jalani dengan iklhas dan dengan hati. Dengan bekal semangat, kesungguhan dan niat saya dapat menyelesaikan kuliah S1 dikota saya. Alkhamdulillah.

            Dua tahun setelah saya lulus S1 ada teman yang mengajak saya untuk melanjutkan kuliah S 2 di sebuah Universitas di lain kota. Saja ijin suami tetapi tidak mengijinkan. Saya sangat sedih. Lalu saya diam-diam ikut daftar dan mengikuti ajakan teman untuk kuliah.  Saya ikut tes TOFOEL dan Psikologites dan dapat diterima menjadi Mahasiswa di sebuah Universitas Pasca Sarjana di kota Surakarta. Kuliah dilaksanakan pada hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Jumat siang, Sabtu siang dan Minggu pagi sampai sore. Kami berlima dari kota menuju ke kota dimana saya kuliah. Berangkat, pulang, membuat tugas selalu bersama. Hari demi hari, minggu demi mingu, bulan demi bulan dan sampai ke tahun tidak terasa.  Panas, hujan tak terasa. Satu setengah tahun saya menjalani kuliah. S 2.  Walau tidak diijinkan suami. Akhirnya saya menjelaskan kepada suami bahwa saya mohon maaf karena saya nekad mendaftar dan mengikuti tes masuk Pasca Sarjana. Akhirnya suami mengijinkan. Kebetulan anak-anak sudah agak besar tidak terlalu repot. Anak-anak sudah berani pulang sendiri dari sekolah. Kuliah S 2 dengan bekal nekad, penuh perjuangan dan doa. Dimana pas tes Tesis ini bersaman dengan anak-anak didik saya juga melaksanakan USBN. Ya Allah semoga saya dan anak didik saya diberi kelancaran, kesuksesan dan kemudahan. Saya dan anak-anak didik saya dapat mengerjakan ujian dan lulus dengan hasil yang terbaik. Saya di tes oleh 3 orang dosen: 2 dosen pembimbing dan 1 dosen tamu. Ujian Tesis sehari ada 4 orang. Kebetulan saya giliran pertama. Dosen pembimbing menanya-nanya dan saya menjawab dengan lancar dan akhirnya dosen tamu memberi pertanyan. Apa, Mengapa dan Bagaimana. Alkhamdullilah dapat saya jawab. Waktu kurang lebih 10 menit ujian tesis selesai. Langsung hari itu dinyatakan lulus. Alkhamdullilah. lulus dengan hasil memuaskan dan dapat mengikuti wisuda pasca sarjana urutan pertama.

            Setelah lulus Pasca Sarjana oleh Dinas Pendidkan Kota memberi kesempatan untuk Menyusun Portofolio sebagai persyaratan mengajukan Sertifikasi Guru. Dengan bekal semangat dan sungguh-sungguh berkas usulan kami kumpulkan dan kami foto copy. Cukup banyak portofolio yang saya buat dan sangat tebal. Akhirnya dapat lolos Sertifikasi dengan berkas portofolio.

            Selang dua minggu saya mendapatkan surat dari dinas pendidikan untuk amengikuti tes seleksi guru berprestasi. Dengan niat, semangat, percaya diri mengikuti seleksi Guru berprestasi. Alkhamdulillah tingkat kota menjadi juara 1dan maju ke tingkat provinsi. Dengan penuh perjuangan saya menyiapkan/ mempersiapakan diri untuk mengikuti seleksi Guru Berprestasi tingkat Provinsi. Maju tingkat Provinsi juga harus membuat Portofolio, Karya Tulis dan Karya Inovasi. Ini semua saya siapkan dengan kerja keras dan penuh harap. Semoga bisa mendapatkan yang terbaik. Saya menjalani tes di Semarang dan menginap selama tiga hari. Berjuang untuk mendapatkan prestasi yang terbaik. Selama tiga hari kegiatan full on time.  Alkhamdullilah dapat menjalani tes, wawancara dan lain-lain. Tibalah pengumuman juara. Ternyata yang disuruh maju ke panggung hanya juara 1, 2 dan 3. Saya mendapatkan urutan no. 5. Alkhamdulillah. Tidak terlalu memalukan. Walaupun tidak jadi juara tetapi ini semua sebagai pengalaman dalam mengikuti lomba. Dalam lomba tentunya ada yang menang, ada yang kalah. Saya tetap semangat.

            Selang satu bulan mendapatkan surat tugas untuk mengikuti tes Calon Kepala Sekolah dari Kepala Dinas Pendidik. Di dalam surat tugas itu sudah ada nama-nama Bakal Calon Kepala Sekolah sejumlah 40 orang. Saya salah satu di dalamnya. Oh bagaimana ini ? Apa yang harus saya pelajari? Harus tanya kepada siapa? Batin saya bertanya. Pantaskah saya ini nanti jadi Kepala Sekolah? Namun karena ini tugas entah hasilnya seperti apa harus mematuhi bersifat loyal terhadap pimpinan.  Dan harus mau menerima apa adanya. Akhirnya saya mengikuti tes Calon Kepala Sekolah yang diselenggarakan oleh LPMP Semarang, Pelaksanaan di kota sendiri.  Kami ber 40 mengikuti seleksi. Seleksi dilaksanakan selama 2 hari hari pertama tes akademik manajerial dan tes hari kedua presentasi penyampaian makalah. Saya jalani tes Calon Kepala Sekolah itu dengan iklhas. Dan dua hari kami lalui dengan lancar. Pikiran saya yang terpenting ikut. Hasil tidak saya dipikirkan.

Bagi saya tahun ini merupakan tahun perjuangan luar biasa sebagai titik puncak kegiatan: Ujian Siswa bersamaan hari Ujian S2 (Tesis), Seleksi Guru Berprestasi Kota dan Provinsi, Pengumpulan Berkas Portofolio Sertifikasi Guru, Tes Calon Kepala Sekolah, Diklat dan kegiatan kecil lainnya.

            Kurang lebih 1 tahun saya mengikuti tes calon Kepala Sekolah. Tiba-tiba ada teman yang datang ke sekolah dan berbincang-bingang tentang kegiatan olahraga yag saya ikuti/ lakukan setiap hari Minggu sore dengannya. Kami berbincang-bincang lebih kurang 1 jam. Akhirnya teman saya pamit dan sebelum pamit menyerahkan selembar surat kepada saya. Surat saya buka. Ya Allah ternyata surat Undangan Pelantikan Kepala Sekolah untuk besok pagi di ruang kerja walikota. Kenapa di ruang kerja walikota? Oh… ya Allah apa yang harus saya lakukan ? Kaki tangan dan seluruh tubuh sepertinya tidak ada tulang yang menopang badan untuk berdiri tegak. Lemas. Saya harus bagaimana? Saya nanti dimana? , bisakah saya menjadi seorang pemimpin?. Pikiran berkecamuk melayang-layang menjadi satu. Saya berjalaan tiada daya. Menuju ke Ibu Kepala Sekolah. Saya sodorkan surat itu dan saya diberi ucapan selamat. Batin takut dan berkecamuk tak karuan. Besok harus tepat waktu datang ke ruang dinas Walikota. Besok harus datang tepat waktu dan memakai tanda-tanda yang lengkap seperti papan nama, Id Card dan lencana Korpri. karena sebagai ASN harus disiplin. Apalagi mau bertemu pak Wali di ruang kerjanya

Pulang dengan lemah lunglai saya berjalan menuju rumah. Pikiran tetap saja berkecamuk tak karuan. Sampai di rumah saya ceriterakan kepada suami. Besok saya dilantik menjadi Kepala Sekolah entah dimana. Saya tidak tahu. Ya disyukuri ini adalah amanah. Semoga dapat menjalani/ melaksanakan tugas suci ini dengan ikhlas dan diridhoi Allah SWT.

            Malam hari saya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi besok siang. Saya berpikir berapa jumlah yang akan dilantik? Siapa saja? Saya harus bagaimana? Apa yang akan terjadi besok di ruang walikota. Selama ini belum pernah berada di ruang kerja wali kota. Sambil tiduran membayangkan apa yang akan terjadi besok, saya tertidur hingga pagi hari. Seperti biasa bangun pukul 03.00 WIB dan mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat tahajut, menyiapkan makan untuk hari ini, bersih-bersih rumah. Mandi ganti baju berangkat ke sekolah. Melaksanakan pekerjaan rutin. Kebetulan hari ini anak-anak kelas VI sudah selesai melaksanakan ujian. Anak-anak  tidak berangkat ke sekolah. Tinggal menunggu hasil ujian. Pekerjaan saya di sekolah pagi ini merekap nilai ujian di sekolah dan menunggu hasil ujian dari Dinas. Dan kebetulan nilai rapor juga sudah selesai di kerjakan. 

Akhirnya pukul 10.00 WIB saya ijin kepala sekolah dan teman-teman berangkat menuju ke Pemerintah kota. Pusat kota pemerintah dan menuju ruang tamu. Dari ruang tamu ditanya dan dipersilahkan duduk sambil menunggu dipersilakan masuk ke ruang Kerja Walikota. Saya menengok kesana kemari tidak ada teman ataupun guru lain. Siapa saja yang dapat undangan? Selang beberapa menit datang teman yang sudah menjadi Kepala Sekolah 2 orang teman yang saya kenal baik. Saya bertanya:  Apakah undangan pelantikan? Ternyata benar kami bertiga mendapatkan uandangan yang sama di tempat yang sama.  Pikiran saya dilantik sebagai Kepala Sekolah baru hanya seorang, dua orang sudah menjadi kepala sekolah. Pikiran saya kemungkinan ada pergeseran tempat. Karena saya mengetahui kekosongan tempat hanya ada satu. Saya orang baru tidak mungkin ditempatkan di sekolah yang besar dan terkenal. Batin saya selalu bertanya-taanya dan mengandai-andai. Ehmm….

Tepat pukul 10.30 WIB kami dipanggil untuk memasuki ruang kerja walikota. Ternyata di ruang Walikota hanya ada 9 orang.  Langsung pelantikan sederhana dilaksankan. Ternyata kepala sekolah baru hanya saya. Di ruang Walikota ini ada 9 orang yaitu saya, 2 orang Kepala Sekolah, Walikota, Kepala Dinas Pendidikan setempat, Sekretaris Daerah dan 2 orang Kepala Unit Pelaksana Teknis di tingkat Kecamatan dan Protokol/ Pembawa acara. Saya beserta dua orang teman berdiri berderet paling depan. Dan dibacakanlah surat keputusan Walikota tentang: Pengangkatan, Pemberhentian Jabatan Kepala Sekolah. Ternyata memang benar pikiran saya.   Jabatan Kepala Sekolah baru ditempatakn di tempat A, Kepala Sekolah di A di tempatkan di B, Jabatan Kepala Sekolah lama di B dipindahkan ke C. Kami bertiga dilantik dan disaksikan oleh Walaikota, Kepala Dinas Pendidikan, Sekretaris Daerah dan 2 orang Kepala UPTD Kecamatan. Setelah dibacakan kami menandatangani Berita Acara Sumpah dan Janji Jabatan Sebagai Kepala Sekolah Baru. Setelah Walikota memberi kata sambutan dan nasihat-nasihat lalu istirahat. Kami dipersilakan untuk menikmati hidangan yang telah disediakan. Kami menikmati hidangan sebentar, lalu pulang.

            Lima hari setelah pelantiakan kami dipanggil oleh Kepala Dinas Pendidikan di ruang Kepala Dinas untuk melaksanakan Serah terima jabatan Kepala Sekolah lama ke baru. Serah terima diadakan di ruang khusus yaitu ruang tamu Kepala Dinas Pendidikan. Karena malam hari nanti kami harus sudah melaksanakan tugas untuk menerima hasl ujian anak-anak. Pelaksanaan lancar. Acara selesai, kami pulang dan bersiap-siap untuk ke sekolah baru. Rencana setelah menerima hasil ujian esok hari.

Malam hari kami langsung melaksanakan tugas untuk menerima hasil ujian.  Hati saya berdebar. Hasil dibagikan satu persatu, saya menerima hasil ujian sekolah baru. Oh…. Saya kaget melihat hasil di luar dugaan. Saya terperanjat melihat hasil itu. Hasil yang diperoleh SD baru sungguh sangat mengecewakan. Jauh dari harapan selama ini di SD lama tempat saya mengajar yang penuh perjuangan. SD lama diterima dan saya lihat sungguh sangat memuaskan. Hasil anak-anak bagus.  Hati berkecamuk suka   dan duka. Suka karena sekolah lama yang saya tinggalkan nilai bagus, duka karena sekolah baru nilai rata-rata kurang dari standar. Namun apa boleh buat. Ini adalah cambuk bagi saya. Bagaimana nanti ke depan sekolah ini harus ada perubahan.  Dari hasil no satu dari bawah berubah minimal ada di tengah sekolah-sekolah di kota. Saya harus mau menerima apa adanya. Usaha nanti setelah saya melaksanakan tugas di sekolah baru. Toh ini baru awal menerima tugas baru sebagai kepala sekolah dan harus berjuang. Saya menenanagkan diri sendiri. Saya nanti akan berusaha bagaimana merubah pembelajaran yang bermanfat dan dapat memuaskan semua pihak antara lain siswa, guru dan juga orang tua. Saya harus bisa. Selama ini saya di sekolah lama selalu berusaha baik akademik maupun non akademik memperoleh hasil yang terbaik. Di sekolah baru ini nanti juga akan berusaha menangani sekolah seperti ini dengan semangat dan berjuang bersama-sama dengan guru yang berada di sekolah baru. Kalau kita bekerja dengan ikhlas, sungguh-sungguh dan berdoa kepada Allah hasilnya pasti bagus. Insya Allah.

Inilah hijrah saya dari sekolah besar murid banyak pindah sebagai Kepala Sekolah Baru di sekolah pinggir dengan murid sedikit. Dengan liku-liku yang berbeda antara sekolah satu dengan sekolah yang lain. Dengan karakter dan suasana yang beda. Saya akan berusaha keras untuk memajukan anak-anak bangsa baik akademik maupun non akademik. Supaya terwujut sekolah yang berkwalitas menjadi anak-anak yang memiliki ilmu pengetahuan luas, berkarakter, berkepribadian yang tangguh sesuai dengan identitas bangsa Indonesia. Dan sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan bangsa Indonesia.  Semoga berhasil. Maju pantang menyerah. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Bekerja dengan ikhlas.  

Salam blogger Indonesia

Rifatun

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rabu, 30 Juni 2021

Minggu, 4 Juli 2021

Sabtu, 5 Juni 2021