KARTINI MASA KINI
Kartini Masa Kini
Belum lagi kegiatan di sekolah
sebagai tenaga pendidik dan sekaligus juga sebagai orang yang dituakan di
sekolah. Mejadi pimpinan sekolah, ketua gugus, pengurus organisasai profesi
(PGRI), Koperasi, Rapat, Paguyuban dan masih banyak lagi organisasi lain yang
kami tekuni. Mengajar anak-anak, menilai teman guru ada permasalahan harus
dapat menyelesaikan. Namun itu semua jika dikerjakan dengan hati dan ikhlas
tidak menjadi beban. Dan menambah semangat dalam kehidupan sehari-hari. Belum
lagi jika kita mengikuti pelatihan-pelatihan.
Pelatihan/ Diklat ke luar kota. Saya merasa bahwa kegiatan itu merupakan
wisata gratis pulang dapat ilmu yang menumpuk. Woow amat sangat senang sekali,
Tambah ilmu, tambah wawasan, tambah teman, saudara dan lain-lain.
Ini
semua saya terapkan kepada kedua anak perempuan saya. Sejak kecil kami asuh,
kami didik, kami bimbing di sebuah keluarga sederhana. Pagi hari anak-anak saya
bawa ke rumah nenek yang rumahnya dekat dengan tempat saya bekerja. Anak
pertama saya berada di TK sedangkan anak ke dua saya masih kecil kira-kira pada
waktu itu usia 2 tahun saya titipkan di rumah orang tua saya. Anak yang besar
saya bawa ke sekolah sambil menunggu waktu kira-kira pukul 08.00 saya antar ke
TK. yang jaraknya kira-kira 2 km dari sekolah. Di TK anak tidak saya tunggu dan
pulangnyapun pulang sendiri naik angkota. Sampai sopir dan kenek angkota hafal
diseberangkan dulu. Dan berjalan menuju rumah orang tua saya. Sore hari
anak-anak saya bawa pulang ke rumah saya sendiri. Begitu setiap pagi dan sore
hari pekerjaan saya. Pagi membawa anak ke rumah nenek. Menitipkan anak kecil
dan membawa anak pertama saya ke sekolah untuk belajar di Taman kana-kanak. Dua
tahun anak-saya belajar di TK. Lulus TK saya sekolahkan di tempat saya
mengajar, sehingga lebih muda pengawasannya. Dan kebetulan rumah orang tua saya
dekat dengan sekolah tempat saya bekerja. Setelah masuk SD dari tahun ke tahun
anak semakin besar dan alkhamdullilah dapat mengikuti pelajaran dengan baik
bahkan selama sekolah di SD mendapatkan peringkat atas. Empat tahun anak
pertama saya sekolah SD lalu saya menyekolahkan anak kedua di TK tempat
kakaknya dulu bersekolah. Pulang juga sendiri naik angkota. Begitu seterusnya
sampai lulus TK dan juga saya sekolahkan di SD tempat saya bekerja. Karena
selisih anak pertama dan kedua 4 tahun maka setelah anak pertama saya lulus
anak kedua saya baru kelas 2 SD. Kedua anak saya baik yang pertama maupun kedua
dalam mengikuti pelajaran lumayan lancar. Disetiap kelas selalu masuk 3 besar.
Alkhamdullilah. Bahkan setelah lulus SD melanjutkan di SMP dan SMA paforit di
kota kelahiran saya selalu menjadi juara.
Keduanya bersekolah di TK, SD, SMP maupun SMA sama.
Sebagai
orang tua tentuanya selalu memberikan yang terbaik kepada anak-anaknya. Dalam menentukan
sesuatu atau bahkan kuliah selalu saya beri kebebasan. Harapan saya setidaknya
bisa melanjutkan orang tuanya sebagai pengajar, Namun anak-anak mempunyai
cita-cita yang berbeda. Anak-anak memilih ke bidang kesehatan. Untuk itu selaku
orang tua, saya persilahkan memilih mau kuliah kemana. Selaku orang memiliki
kewajiban kepada anak-anak untuk memberikan biaya sekolah/ kuliah sampai
menjadi sukses. mendorong, menasehati, dan selalu mendoakan yang terbaik untuk
anak-anaknya.
Dengan
sekuat tenaga pikiran selaku ibu dengan senang hati menurutinya. Dengan syarat
jujur dan bertanggungjawab atas semua yang dilakukan anak dan selalu memberikan
laporan sesuai dengan kenyataan yang dilakukan anak-anak. Anak-anak kuliah di
Poltekes di ibu kota provinsi. Anak Pertama mengambil jurusan Kebidanan DIII
dan melanjutkan ke D IV sampai lulus. Setelah lulus anak pertama melamar
pekerjaan di sebuah rumah sakit swasta di ibu kota negara diterima dan bekerja
selama 3 tahun. Lalu mendaftar di sebuah Puskesmas di ibukota negara juga. Diterima
dan bekerja sebagai bidan di sebuah Puskesmas. Sedangkan anak kedua mengambil
keperawatan D III. Begitu lulus di keperawatan melanjutkan ke S1 di sebuah
Universitas Negeri di Surabaya.
Ditengah
perjalanan kuliah di Surabaya ada pendaftaran CPNS Perawat. Dengan bekal nekad
dan mencoba mendaftarkan diri dengan tujuan
di rumah sakit di kota kelahiran saya dengan berbekal Pendidikan D III.
Ternyata saingannya cukup banyak lebih dari seribu calon peserta tes hanya akan
diambil 2 orang. Tahapan tes demi tahapan tes dilalui. Saya selaku orang tua
selalu berdoa kepada Allah SWT. Semoga diberikan kelancaran, jalan yang terbaik
dan dapat melaksanakan/ mengikuti tes CPNS dengan lancar dan diridhoi oleh
Allah SWT. Semoga berhasil dan cita-citanya tercapai.
Dari
beribu-ribu peserta diambil 800 orang diseleksi menjadi 300 orang. Dari 300 orang diambil 80 orang. Disaring lagi
menjadi 30 orang. Dan akhirnya menjadi 8 orang. Dan dari 8 orang diambil 2.
Alkhamdulillah anak saya mendapatkan urutan ke 2dan diterima sebagai CPNS di kota tempat tinggal.
Sungguh saya sangat bersyukur kepada Allah SWT yang telah membimbing, memberi
petunjuk dan atas berkatnya anak saya menjadi CPNS. Dan dapat bekerja di kota
tempat tinggal itu adalah suatu kebahagiaan orangtua sendiri. Hingga kini anak
bekerja. Sehingga kuliah di Universitas di Surabaya ditiggalkan. Karena sudah
diterima menjadi CPNS. Harapan saya selaku orang tua. Kuliahnya dapat
diselesaikan sambil bekerja. Namun karena sesuatu hal (setiap konsultasi tidak
dapat bertemu dengan dosen yang sibuk dengan pekerjaan) lama-kelamaan
ditinggalkan. Bahkan sekarang kemungkinan sudah dikeluarkan dari Universitas
tersebut.
Sekarang
anak kedua saya sudah menjadi perawat disebuah rumah sakit negeri. Sebagai
tenaga muda selaku orang tua selalu menasehati kita harus bekerja dengan ikhlas
dan bekerja dengan hati. Apa yang diminta dari orang di sekitar kita selalu dilaksanakan
dengan tulus dan ikhlas . Karena bekerja dengan hati dan ikhlas pekerjaan berat
menjadi ringan dan barokah. Hal ini selalu saya tanamkan kepada anak-anak.
Setiap ada acara anak termuda selalu ikut. Bahkan sekarang dari Kantor pusat
meminta tambahan tenaga medis ke ibu kota dan terpilih untuk ikut membantu
pemerintah memberikan vaksin kepada masyarakat. Semoga senantiasa selalu sehat.
Dengan memberikan pelayanan yang ramah dan ikhlas insya Allah semuanya dapat
lancar.
Itu
semua adalah berkat perjuangan seorang ibu demi kemajuan anak-anak. Dari kecil
hingga besar bekerja mencari penghasilan untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
Berjuang menjadi ibu rumah tangga. Bisa dikatakan menjadi Menteri lengkap di
sebuah keluarga (Menteri Pemberdayaan Perempuan. Menteri Ekonomi, Menteri
Pendidikan, Menteri Keuangan, Menteri Sosial, Menteri Kesejahteraan dan lain-lain.
Kepuasan
seorang wanita (seorang ibu) yang anak-anaknya telah berhasil mencapai
cita-cita yang diidam-idamkan. Sudah ada yanag menikah hidup berumah tangga dan
bekerja mencukupi kebutuhan sendiri. Dan tidak meminta kepada orang tua. Dapat hidup mandiri minimal kebutuhan sendiri
terkecukupi dari hasil kerjanya. Dan yang satu walaupun belum menikah sudah
mendapatkan pekerjaan tetap. Dari hasil kerjanya bisa dimanfaatkan minimal
untuk diri sendiri. Alkhamdullilah
Itulah
kartini-kartini masa kini . Senantiasa berusaha meraih cita-citanya dan berhasil apa yang dicita-citakan oleh ibu Kita
Kartini memajukan kaum wanita. Maju sejajar dengan laki-laki. Tidak terbelakang
seperti tempo dulu sebelum ibu Kita Kartini lahir. Wanita sudah tidak lagi diam
diri di rumah, memasak, mencuci, melayani suami, kodrat wanita yang tidak bisa
ditinggalkan namun bisa bekerja baik di rumah maupun di luar bahkan terkadang
pekerjaan wanita lebih banyak daripada pekerjaan laki-laki. Harus bisa bagi
waktu dan memprioritaskan pekerjaan mana yang harus segera diselesaikan/
didahulukan. Kartini muda tumbuh berkembang di seluruh penjuru tanah air. Dari
barat sampai ke timur dari Sabang sampai Merauke. Banyak wanita yang berhasil
dan sukses baik dalam karier sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai pekerja
yang harus melaksanakan tugasnya di kantor, atau di warung/pasar, di rumah dan dimana
wanita berada.
Terimakasih
anak-anakku telah berpartisipasi memajukan kaum wanita. Semoga sukses selalu
menyertaimu dimanapun kamu berada. Ingat bekerjalah dengan hati, ramah, ikhlas
dan berdoalah sebelum dan sesudah bekerja. Dan jangan lupa selalu bersyukur
kepada Allah SWT apa yang kau dapatkan dari bekerja. Semoga selalu mendapatkan
bimbingan, petunjuk dan perlindungan dari Allah SWT. Aamiin yaa robbal
‘alamiin.
Kehidupan seseoraang antara satu
dengan yang lain tentu sangat bebeda jauh. Seperti saya dengan wanita-wanita
yang lain. Saya adalah seorang wanita yang penuh semangat melaksanakan tugas
kehidupan sehari-hari. Baik sebagai tenaga pendidik maupun sebagai ibu rumah
tangga yang melayani keluarga dari pagi hingga malam. Pagi bangun di sepertiga malam untuk
melaksanakan sholat tahajut. Dilanjutkan dengan seletika, memasak untuk hari
ini, mencuci, dan mengerjakan tugas lain seperti membuat laporan-laporan dan
menyelesaikan kegiatan sekolah yang dibawa ke rumah. Ini tugas saya rutin setiap pagi. Di rumah di
pagi hari belum kegiatan rutin lain di hari yang lain. Jika libur saya
melaksanakan kegiatan badminton, sepedaan, arisan, pengajian, PKK, Senam,
kegiatan sosial lain dan lain-lain sehingga waktu sangat cepat berlalu dengan
diisi kegiatan yang sangat menyibukkan setiap harinya dan sangat bermanfaat.
Belum lagi kegiatan di sekolah
sebagai tenaga pendidik dan sekaligus juga sebagai orang yang dituakan di
sekolah. Mejadi pimpinan sekolah, ketua gugus, pengurus organisasai profesi
(PGRI), Koperasi, Rapat, Paguyuban dan masih banyak lagi organisasi lain yang
kami tekuni. Mengajar anak-anak, menilai teman guru ada permasalahan harus
dapat menyelesaikan. Namun itu semua jika dikerjakan dengan hati dan ikhlas
tidak menjadi beban. Dan menambah semangat dalam kehidupan sehari-hari. Belum
lagi jika kita mengikuti pelatihan-pelatihan.
Pelatihan/ Diklat ke luar kota. Saya merasa bahwa kegiatan itu merupakan
wisata gratis pulang dapat ilmu yang menumpuk. Woow amat sangat senang sekali,
Tambah ilmu, tambah wawasan, tambah teman, saudara dan lain-lain.
Ini
semua saya terapkan kepada kedua anak perempuan saya. Sejak kecil kami asuh,
kami didik, kami bimbing di sebuah keluarga sederhana. Pagi hari anak-anak saya
bawa ke rumah nenek yang rumahnya dekat dengan tempat saya bekerja. Anak
pertama saya berada di TK sedangkan anak ke dua saya masih kecil kira-kira pada
waktu itu usia 2 tahun saya titipkan di rumah orang tua saya. Anak yang besar
saya bawa ke sekolah sambil menunggu waktu kira-kira pukul 08.00 saya antar ke
TK. yang jaraknya kira-kira 2 km dari sekolah. Di TK anak tidak saya tunggu dan
pulangnyapun pulang sendiri naik angkota. Sampai sopir dan kenek angkota hafal
diseberangkan dulu. Dan berjalan menuju rumah orang tua saya. Sore hari
anak-anak saya bawa pulang ke rumah saya sendiri. Begitu setiap pagi dan sore
hari pekerjaan saya. Pagi membawa anak ke rumah nenek. Menitipkan anak kecil
dan membawa anak pertama saya ke sekolah untuk belajar di Taman kana-kanak. Dua
tahun anak-saya belajar di TK. Lulus TK saya sekolahkan di tempat saya
mengajar, sehingga lebih muda pengawasannya. Dan kebetulan rumah orang tua saya
dekat dengan sekolah tempat saya bekerja. Setelah masuk SD dari tahun ke tahun
anak semakin besar dan alkhamdullilah dapat mengikuti pelajaran dengan baik
bahkan selama sekolah di SD mendapatkan peringkat atas. Empat tahun anak
pertama saya sekolah SD lalu saya menyekolahkan anak kedua di TK tempat
kakaknya dulu bersekolah. Pulang juga sendiri naik angkota. Begitu seterusnya
sampai lulus TK dan juga saya sekolahkan di SD tempat saya bekerja. Karena
selisih anak pertama dan kedua 4 tahun maka setelah anak pertama saya lulus
anak kedua saya baru kelas 2 SD. Kedua anak saya baik yang pertama maupun kedua
dalam mengikuti pelajaran lumayan lancar. Disetiap kelas selalu masuk 3 besar.
Alkhamdullilah. Bahkan setelah lulus SD melanjutkan di SMP dan SMA paforit di
kota kelahiran saya selalu menjadi juara.
Keduanya bersekolah di TK, SD, SMP maupun SMA sama.
Sebagai
orang tua tentuanya selalu memberikan yang terbaik kepada anak-anaknya. Dalam menentukan
sesuatu atau bahkan kuliah selalu saya beri kebebasan. Harapan saya setidaknya
bisa melanjutkan orang tuanya sebagai pengajar, Namun anak-anak mempunyai
cita-cita yang berbeda. Anak-anak memilih ke bidang kesehatan. Untuk itu selaku
orang tua, saya persilahkan memilih mau kuliah kemana. Selaku orang memiliki
kewajiban kepada anak-anak untuk memberikan biaya sekolah/ kuliah sampai
menjadi sukses. mendorong, menasehati, dan selalu mendoakan yang terbaik untuk
anak-anaknya.
Dengan
sekuat tenaga pikiran selaku ibu dengan senang hati menurutinya. Dengan syarat
jujur dan bertanggungjawab atas semua yang dilakukan anak dan selalu memberikan
laporan sesuai dengan kenyataan yang dilakukan anak-anak. Anak-anak kuliah di
Poltekes di ibu kota provinsi. Anak Pertama mengambil jurusan Kebidanan DIII
dan melanjutkan ke D IV sampai lulus. Setelah lulus anak pertama melamar
pekerjaan di sebuah rumah sakit swasta di ibu kota negara diterima dan bekerja
selama 3 tahun. Lalu mendaftar di sebuah Puskesmas di ibukota negara juga. Diterima
dan bekerja sebagai bidan di sebuah Puskesmas. Sedangkan anak kedua mengambil
keperawatan D III. Begitu lulus di keperawatan melanjutkan ke S1 di sebuah
Universitas Negeri di Surabaya.
Ditengah
perjalanan kuliah di Surabaya ada pendaftaran CPNS Perawat. Dengan bekal nekad
dan mencoba mendaftarkan diri dengan tujuan
di rumah sakit di kota kelahiran saya dengan berbekal Pendidikan D III.
Ternyata saingannya cukup banyak lebih dari seribu calon peserta tes hanya akan
diambil 2 orang. Tahapan tes demi tahapan tes dilalui. Saya selaku orang tua
selalu berdoa kepada Allah SWT. Semoga diberikan kelancaran, jalan yang terbaik
dan dapat melaksanakan/ mengikuti tes CPNS dengan lancar dan diridhoi oleh
Allah SWT. Semoga berhasil dan cita-citanya tercapai.
Dari
beribu-ribu peserta diambil 800 orang diseleksi menjadi 300 orang. Dari 300 orang diambil 80 orang. Disaring lagi
menjadi 30 orang. Dan akhirnya menjadi 8 orang. Dan dari 8 orang diambil 2.
Alkhamdulillah anak saya mendapatkan urutan ke 2dan diterima sebagai CPNS di kota tempat tinggal.
Sungguh saya sangat bersyukur kepada Allah SWT yang telah membimbing, memberi
petunjuk dan atas berkatnya anak saya menjadi CPNS. Dan dapat bekerja di kota
tempat tinggal itu adalah suatu kebahagiaan orangtua sendiri. Hingga kini anak
bekerja. Sehingga kuliah di Universitas di Surabaya ditiggalkan. Karena sudah
diterima menjadi CPNS. Harapan saya selaku orang tua. Kuliahnya dapat
diselesaikan sambil bekerja. Namun karena sesuatu hal (setiap konsultasi tidak
dapat bertemu dengan dosen yang sibuk dengan pekerjaan) lama-kelamaan
ditinggalkan. Bahkan sekarang kemungkinan sudah dikeluarkan dari Universitas
tersebut.
Sekarang
anak kedua saya sudah menjadi perawat disebuah rumah sakit negeri. Sebagai
tenaga muda selaku orang tua selalu menasehati kita harus bekerja dengan ikhlas
dan bekerja dengan hati. Apa yang diminta dari orang di sekitar kita selalu dilaksanakan
dengan tulus dan ikhlas . Karena bekerja dengan hati dan ikhlas pekerjaan berat
menjadi ringan dan barokah. Hal ini selalu saya tanamkan kepada anak-anak.
Setiap ada acara anak termuda selalu ikut. Bahkan sekarang dari Kantor pusat
meminta tambahan tenaga medis ke ibu kota dan terpilih untuk ikut membantu
pemerintah memberikan vaksin kepada masyarakat. Semoga senantiasa selalu sehat.
Dengan memberikan pelayanan yang ramah dan ikhlas insya Allah semuanya dapat
lancar.
Itu
semua adalah berkat perjuangan seorang ibu demi kemajuan anak-anak. Dari kecil
hingga besar bekerja mencari penghasilan untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
Berjuang menjadi ibu rumah tangga. Bisa dikatakan menjadi Menteri lengkap di
sebuah keluarga (Menteri Pemberdayaan Perempuan. Menteri Ekonomi, Menteri
Pendidikan, Menteri Keuangan, Menteri Sosial, Menteri Kesejahteraan dan lain-lain.
Kepuasan
seorang wanita (seorang ibu) yang anak-anaknya telah berhasil mencapai
cita-cita yang diidam-idamkan. Sudah ada yanag menikah hidup berumah tangga dan
bekerja mencukupi kebutuhan sendiri. Dan tidak meminta kepada orang tua. Dapat hidup mandiri minimal kebutuhan sendiri
terkecukupi dari hasil kerjanya. Dan yang satu walaupun belum menikah sudah
mendapatkan pekerjaan tetap. Dari hasil kerjanya bisa dimanfaatkan minimal
untuk diri sendiri. Alkhamdullilah
Itulah
kartini-kartini masa kini . Senantiasa berusaha meraih cita-citanya dan berhasil apa yang dicita-citakan oleh ibu Kita
Kartini memajukan kaum wanita. Maju sejajar dengan laki-laki. Tidak terbelakang
seperti tempo dulu sebelum ibu Kita Kartini lahir. Wanita sudah tidak lagi diam
diri di rumah, memasak, mencuci, melayani suami, kodrat wanita yang tidak bisa
ditinggalkan namun bisa bekerja baik di rumah maupun di luar bahkan terkadang
pekerjaan wanita lebih banyak daripada pekerjaan laki-laki. Harus bisa bagi
waktu dan memprioritaskan pekerjaan mana yang harus segera diselesaikan/
didahulukan. Kartini muda tumbuh berkembang di seluruh penjuru tanah air. Dari
barat sampai ke timur dari Sabang sampai Merauke. Banyak wanita yang berhasil
dan sukses baik dalam karier sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai pekerja
yang harus melaksanakan tugasnya di kantor, atau di warung/pasar, di rumah dan dimana
wanita berada.
Terimakasih
anak-anakku telah berpartisipasi memajukan kaum wanita. Semoga sukses selalu
menyertaimu dimanapun kamu berada. Ingat bekerjalah dengan hati, ramah, ikhlas
dan berdoalah sebelum dan sesudah bekerja. Dan jangan lupa selalu bersyukur
kepada Allah SWT apa yang kau dapatkan dari bekerja. Semoga selalu mendapatkan
bimbingan, petunjuk dan perlindungan dari Allah SWT. Aamiin yaa robbal
‘alamiin.

Komentar
Posting Komentar