Menanti Hasil yang Tak Kunjung Datang


Menanti Hasil yang Tak Kunjung Datang

Pagi yang cerah secerah hatiku untuk mengantarkan kakaku ke ibu kota provinsi yang ramai dikunjungi oleh banyak orang untuk bekerja di instansi pemerintah. Lain dengan diriku yang biasanya pagi ini berangkat bekerja ke sekolah. Justru kami pagi-pagi bersama dengan suami pergi mengantarkan kakaku tertua untuk berobat di sebuah ibu kota Provinsi.

Pagi itu kami berangkat ke Rumah Sakit besar di Provinsi Jawa Tengah untuk mengantarkan kakak yang menderita tumor di kepala tepatnya di luar otak di dinding sebelah mata  kanan.  Beberapa kali kami mengantarkan kakakku . Hari ini kami berdua saya dan suami mengantarkan kakak dengan berkendaraan roda empat.  Kami berangkat. Sambil berbincang kecil  kami melaju dengan kecepatan sedang menuju Rumah Sakit. Tak terasa waktu begitu cepat. Sampailah kami di rumah sakit. Kami bertiga turun dan menunggu suami parkir saya mendahului mengambil hasil radiologi. Setelah kami mengambil hasil radiologi kamipun langsung menuju ruang bagian  ruang tumor. Kami merupakan pasien yang datang paling pagi. Belum ada pasien lain yang datang. Perlahan sepi sunyi , lama-kelaman berdatangan satu demi satu. Akhirnya penuhlah ruang yang kami tunggu dengan pasien lain .

Kira-kira 30 menit kemudian datanglah perawat dan dokter. Kakaku dipanggil  pertama. . Akupun ikut masuk menemani kakakku. Dokter bertanya apa yang dirasakan oleh kakakku. Kakakku menjawab seperti hari-hari lalu bahwa yang dirasakan adalah mata sebelah kanan buram tidak bisa digunakan untuk melihat. Namun mata yang kiri dapat digunakan untuk melihat. Karena sudah berusia sekitar 72 tahun , penglihatan tidak begitu jelas . Akhirnya dokter memeriksa kembali mata kakakku dan meminta hasil city scan radiologi ke tiga.  Kuberikan kepada dokter yang memeriksa. Bukankah pasien ini menunggu kamar untuk pelaksanaan operasi. Iya dokter jawabku. Namun kami belum mendapatkan kabar pasti masih menunggu. Akhirnya dokter menyuruh kami untuk menanyakan di tempat   Pendaftaran Pasien Rawat Inap disingkat  TPPRI. Jika nanti sudah tanya dan sudah mendapatkan kamar nanti kami disuruh kembali ke ruang ini.  Ya siap kami akan mencoba menanyakan semoga  segera dapat kamar.

Lalu kami keluar  menuju TPPRI sendiri dan menanyakan apakah antrean 28 ruang rawat inap sudah bisa mendapat kamar untuk persiapan operasi. Sambil menunggu kami berada di ruang itu. Dalam hati kami selalu berdoa semoga segera mendapatkan tempat yang kami maksud. Karena yang mendaftar cukup banyak. Kamipn dengan sabar menunggu. Akhirnya seorang perawat/ petugas mengatakan. Bagaimana kalau hari ini masuk ruang perawatan inap. Oke Siap jawaban saya. Saya  harus konsultasi dengan dokter kembali. Apakah dokternya siap. Maka saya berlari menuju ruang periksa kamar 7. Namun karena banyak pasien  saya  tidak berani mengganggunya. Akhirnya saya dibantu perawat  menanyakan hal tersebut. Perawat menuju ke ruang periksa. Tak lama kemudian perawat menemui saya. Dan alkhamdullillah dokter siap untuk melaksanakan operasi.

Lalu saya menuju ke TPPRI Kembali dan mengatakan kepada perawat/ petugas bahwa dokter siap. Karena kami berangkat ke rumah sakit tadi pagi tidak membawa apa-apa. Akhirnya kami berembug dengan suami dan kakak  kalau operasainya segera dilaksanakan bagaimana. Dan kakak menyetujui siap dioperasi dalam waktu dekat. Kami memutuskan untuk pulang dulu ke asal kami  untuk persiapan kakak menginap / dirawat di rumah sakit.

Dalam perjalanan pulang saya memberitahu anak-anak kakak bahwa ayahnya segera untuk dioperasi.  Dan sambil pulang kami menelpon anak yang perempuan untuk mempersiapkan bekal  (pakaian, alat mandi, makan dan lain-lain ) untuk di  rumah sakit dan sekaligus menentukan yang menunggu kakak saya nanti siapa. Dan kesepakatan bahwa yang menunggu anak-anaknya bergantian. Untuk nanti malan yang menunggu adalah anak tertua perempuan.

Tak terasa waktu cepat berllu. Sampalah kami di rumah kakak saya. Dan menerangkan kepada istri kakak  untuk hari ini nanti masuk rumah sakit sebelum pukul 21.00 WIB. Dan kamipun berjanji  sebelum pukul 17.00 WIB siap untuk mendaftarkan kakak rawat inap di rumah sakit. Lelah tak terasa lelah . Saya menyelesaikan mengeraskan minuman jahe untuk  di buat minuman instan yang tadi kami tinggalkan. Sampai jadi mengkristal kami masukkan ke dalam tempat umtuk disimpan.

Pukul 14.00 suami mengingatkan saya untuk segera siap-siap kembali mengantarkan kakak  ke rumah sakit kembali. Sayapun segera  bersiap. Pukul 14.00 WIB lebih sedikit kami Kembali menjemput kakak ke rumah. Dan sampai di rumah kakak . Ternyata anak-anak kakak dan juga kakak sudah siap berangkat. Dan kamipun berangkat menuju ibukota provinsi lagi. Sambil berbincang dengan anak kakak , kakak dan suami.

Sampailah kami di rumah sakit kembali. Dan kami mendaftarkan kakak sebgai pasien inap. Kami menunggu cukup lama . Karena bayak pasien yang mendaftarkan untuk rawat inap. Kami dengan sabar menunggu. Dua jam setengah kami menunggu antrean . Akhirnya kami mendapatkana kamar kelas II lantai 2. Kamar bagus. Alkhamdullillah kakak saya dapat di rawat inap di rumah sakit dengan memanfaatkaan BPJS yang dipunyai kakak. Akhirnya saya mengantarkan kakak sampai masuk di kamar inap.  Kami memberikan saran-saran kepada anak kakak selama menunggu. Kira-kira pukul 17 .45 WIB saya meninggalkan rumah sakit menuju ke parkiran.

Magrib datang alkhmadullilah. Saya minum  seteguh air untuk membatalkan puasa. Sehari pulang pergi ke Semarang tak terasa lelah. Betapa segar air yanag saya minum pelepas dahaga. Akhirnya pukul 18.30 sampailah kami bersama suami di rumah.

Saya bergegas mandi ganti dan menjalankan sholat magrib. Dan seperti biasa mengikuti kuliah  Online  Belajar Menulis Bersama Om Jay. Setiap hari Senin, Rabu dan Jumat. Dan mengikuti Speaking Publik setiap hari Selasa dan Kamis.

Hari berikutnya saya melaksanakan kegiatan  rutin bekerja seperti biasa ke sekolah walaaupun di masa pandemi covid-19  ini. Hari Selasa, Rabu, Kami. Dan Alkhamdulillah hari itu Jumat libur hari raya Implek.

Hari - hari di sekolah dan di rumah saya selalu berkomunikasi dengan anak kakak yang menjaga bapaknya. Hari Selasa saya menanyakan keadaan  dan kondisi kakak. Alkhamdullilah sehat. Dan hari Selasa  di Swab  sebelum dilaksanakan operasi . Dan rencana hari Rabu akan di operasi. Hari Rabu pukul 09.00 sudah masuk ruang operasi kira-kira 1 jam  sambil menunggu hasil swab. Ternyata berdasarkan informasi dari anak kakak laboratorium  bermasalah. Akhirnya hari Rabu di swab lagi dan belum jadi di operasi.

Hari Kamis kami semua menunggu hasil . Pada Pukul 13.30 ternyata hasil swab positif. Hasil Swab positif  saya dan suami sangat kaget. Dan kakak harus isolasi . Oleh petugas ditanya mau isolasi mandiri di rumah sakit atau di rumah  . Pada awal mula saya sarankan isolasi di rumah sakit saja, namun karena  usia sudah tua dan kalau di rumah sakit selama 14 hari justru malah menimbulkan stress dan psikis kakak  terganggu. Maka kami memutuskan untuk dibawa pulang. Sambil bertanya -tanya dalam hati  kenapa bisa positif? Padahaal kondisi kakak sehat? Benarkah berita ini. Lha mau tidak mau kami harus menerima kenyataan.

Setelah kami mendengar kabar kalau kakak  dibawa pulang, Kami langsung memberitahu istri kakak/ kakak ipar  untuk segera menyiapkan  segala sesuatunya untuk kakak  yang dinyatakan positif Covid-19. Dan saya memberikan nasehat-nasehata demi kebaikan bersama.  Mengenai kamar, makan, siapa yang menyiapkan makan setiap harinya , bagaimana jika ada tetangga yang menengok dan sebagainya. Yang penting protocol Kesehatan tetap dilaksanakan.  Di rumah kakak saya melihat cucu laku-laki dari anak pertama sedang tidur nyenyak. Kami mohon untuk di pulangkan ke rumah nya sendiri. Setelah selesai memberitahukan kami pulang kembali ke rumah saya sendiri di perumahan.

Berdasarkan informasi yang kami peroleh dari anak kakak , penyelesaian adminiastrasi selesai pada pukul 22.00. Kakak dibawa pulang kembali ke rumah dan belum jadi di operaasi.  Sampai di rumah sekitar pukul 11.30. Dan segala sesuatunya sudah siap.

Hari itu hari Jumat sore tiba-tiba terdengar bel berbunyi. Dengan nomor yang belum saya kenal. Saya ragu saya angkat atau tidak. Yang pertama ngebel tidak saya angkat. Lalu yang ke dua saya angkat ternyata ada petugas dari Puskesmas yang menanyakan  kondisi kakak. Benarkah pak Slamet K positif ? Dan sekaranag ada dimana?  Siapa yang berhubungan erat dengannya? Siapa yang serumah dengan nya? Semua pertanyaan  saya  jawab dengan jujur:, bahwa yang membawa  pulang anak-anaknya. Satu mobil, Dan saya pada hari Senin yang lalu bersama suami mengantarkan  ke rumag sakit.  Kami dimintai  foto No hp dan dimintai juga KTP. Langsung kami berikan khusunya saya dan suami. Untuk Anak-anak kakak  hanya memberikan no hp saja. Saya diminta untuk melakukan swab di Puskesman. Pada awal saya menolak lalu demi kebaikan kami  siap isolasi mandiri di rumah, namun demi Kesehatan Bersama dari petugas Peskesmas saya dan suami harus melaksanakan swab. Akhirnya berdasarkan kesepakatan dengan suamai saya hari Sabtu siap untuk di swab di Puskesmas.  Suruh datang ke Puskesmas Pada pukul 10.00 WIB. Dalam hati bertanya bahwa selama ini / sejak hari Senin sampai sekarang tidak ada gejala apapun, Saya merasa  sehat. Tanda-tanda Covid-19 tidak ada pada diri saya dan juga suami. Tidak merasakan pusing,  suhu normal , demam, mual, diare, tenggorokan gatal, batuk, pilek dan sebagainya.  Tapi tetap dipaksa harus melakukan swab. Ya manut saja apalagi saya selaku ASN  mau melaksanakan  prosedur  Kesehatan Puskesmas.

Hari Sabtu saya melaksanakan tugas di rumah. Rencana mau  ada kegiatan pelepasan warga sekolah kami yang purna, maka saya serahkan ke Guru Senior. Karena waktu bersamaan dengan rencana swap.  Saya masih kerja dari rumah. Pukul 08.30 ada WA kalau suruh datang sebelum pukul 09.00 WIB. Maka kami segera bergegas siap untuk persiapan ke Puskesmas.

Saya Bersama suami berangkat ke Puskesmas. Sampai di Puskesmas kami langsung menuju tempat pelaksanaan Swab. Disitu banyak ibu-ibu hamil yang di swab. Saya melihat bagaimana cara di swab. Sambil mengamati pengambilan lendirnya.  Akhirnya tibalah giliran kami. Maka saya mempersilahkan suami terlebih dahulu untuk melaksanakan swab. Baru saya. Saya tanya kapan hasil swab keluar. Dokter bilang 3 – 4  hari. Selesai di swab kami pulang. Dan sambal nenunggu hasil swab kami disarankan untuk isolasi mandiri. Dan selama hasil belum keluar dilarang kemana-mana. Tidak boleh keluar rumah.

Kamipun taat apa yang dianjutkan kepada kami, walaupun batin bertolak belakang apa yang disarankan untuk isolasi mandiri. Saya merasa sehat , tidak ada gejala apa saja yang sudah saya utaraakan di atas.

Kami berdua di rumah kegiatan -kegiatan minggu ini kami hentikan. Termasuk suami mau mengirim barang ditunda. Setiap hari Minggu pagi saya melaksanakan krgiatan olahraga badminton, tidak berangjkat dan juga senam  juga tidak berangkat. Untung bahan masakan sudah biasa untuk beberapa hari masih cukup. Oh ya Allah tidak sakit,  sehat bugar kenapa isolasi mandiri ? Batin saya bercampur aduk tak karuan. Jika saya kena Covid-19 tentunya saya sudah hari Selasa pulang dari rumah sakit sudah nerasakan gejala-gejala. Saya  insya Allah sehat, kuat dan seandainya diijinkaan melaksanakan tugas sehari-hari di sekolahpun juga tidak mengapa. Ya sekali lagi selaku ASN menjaga hal yang tidak diinginkan saya harus mematuhinya.

Hari Senin kami belum menerima hasil swab. Saya masih di rumah walaupun tetap melaksanakaan pekerjaan rutin dari rumah. Hari Selasa masih belum keluar. Hari Rabu juga belum keluar. Saya memutuskan untuk tes mandiri. Oleh teman disarankan tidak usah karena hasilkurang valid,. Lebih baik menunggu hasil swab saja. Menunggu memang hal yanag menjemukan. Kondisi sehat walafiat suruh isolasi mandiri. Apalagi kegiatan tambahan. Seperti memberikan seremoni di hadapan kepala SMP  tidak bisa kami laksanakan. Hanya mengirimkan video dan Power Point tentang pelaksanaan Akreditasi Sekoalah   tahun 2020 di masa pandemi ini.  Karena sekolah yang kami  baru saja dilaksanakan Penilaian akreditasi dengan instrunmen baru dan vitasinya lewat daring pada bulan November lalu  sudah kami lasanakan . Karena sekolah kami mendapatkan Piloting Projeck. Dan berupakan satu-satunya  sekolah di kota kami  yang melaksanakan akraeditasi dengan hasil unggul nilai 94. Alkhamdullilah.  Ini semua berkat Kerjasama dari steakholder di sekolah kami. Itu semua tidak jadi kami lakukan.

Hari Kamis belum juga ada hasil.  Karena saya merasa sehat dan tidak ada gejala apapun yang mengarah ke Covid-19 . Saya nekad berangkat ke sekolah. Teman-teman kaget atas kedatangan saya. Saya terangkan bahwa saya sehat dan tidak ada gejala apapun terhadap diri saya. Namun teman-teman pada takut dengan saya.  Kalau takut jangan dekat dengan saya . Saya menyendiri jauh dari bapak/ ibu guru semua. Bahkan ada seorang teman yang bicara menusuk hati saya. Kalau saya berangkat tentunya juga dekat  dengan ibu.   Usia saya ini sudah lebih dari lima puluh tahun bu. Guru itu berbicara sambil sinis keluar  kantor. Dan bahkan ada yang mengatakan. Karena hasil belum keluar ibu lebih baik pulang. Oke kalau Bapak/ Ibu takut dan membuat ketidaknyamanan di sini  , saya akan pulang. Rasa hati ini sedih. Saya membayangkan jika saya betul-betul kena Covid betapa terisolirnya diri saya. Semua orang takut dan menjauhi saya. Bahkan mungkin orang-orang tak mau mendekat. Kasian bagi orang-orang  yang kena Covid . Pasti di cap akan menularkan  ke teman lain. Dan semua menjauh.  Tak terasa diri  ini rasanya mau nangs dan keluarlah aair mata yang mentee di pipiku. . Saya ini sehat betul. Jika saya merasakan ada gejala pada diri saya, saya pasti tahu diri untuk tidak mendekat. Demi Allah  saya sehat Saya  menuju tempat duduk disebelah ruangan, sambal meratapi diri . Kenapa mau di swab. Dan hasil begitu lama. Air mataku mengalir. Dan sayapun wa dengan suami. Kalau teman-teman pada takut. Suami mengatakan : Pulang !. Maka sayapun  bersiap untuk langsung pulang ke rumah. Sambil berpikir. Dan bertanya dalam hati. Kapan hasil keluar. Mengapa hari Senin yang lalu tidak  mengikuti tes mandiri? Seandainya saya mengikuti tes mandiri pasti hasil sudah keluar. Karena anak-anak yang satu kamar dan yang merawat bapaaknya juga tidak kena Covid. Dan juga kakak saya juga sehat. Semua tidak ada yang mempunyai gejala Covid-19.  Apakah ini ada hikmah terhadap kakak saya tidak jadi operasi karena usia sudah lanjut.? Sabar. Sabaaaarrr batin saya. Ini ujian dari Allah SWT dan harus Latihan sabar. Ya sabar dulu.

Saya siap  memasukkan laptop dan  langsung pulang dan hanya berpamitan dengan  seoraang teman yang masih muda.  Sampai di rumah saya diketawain oleh suami dan anak.  Latihan sabar ibu. Kata anak saya yang baru saja pulang kerja, karena masuk malam. Tunggu hasil dulu.Kan lebih enak bekerja dari rumah. . Dah saya tolong diantar tak ikut tes mandiri biar mantap. Orang sehat ditakuti teman-teman.

Akhirnya hari Jumat pagi saya diantarkan anak ke klinik laboratorium di kota kami. Mendaftarkan, mengisi nama dan no hp. Dan diminta KTP.  Dan diberi surat untuk mengambil hasil nanti sore pukul 17.00. Setelah menerima surat bukti bayar dan surat pengambilan hasil langsung pindah ruangan dan di swab antigen.  Begitu cepat mengambil lender karena tidak ada orang. Sehingga langsung dikerjakan. Keluar dari labaoratorium kami langsung belanja membeli alat tulis yang akan digunakan untuk kegiatan workshop esok hari . Setelah belanja langsung pulang ke rumah, karena nanti sore akan menyiapkan tempat di salah hotel  besar di kota kami.

Sore hari saya berangkat ke hotel yang telah direncanakan dan percaya dengan saya ketemu dan mantap dengan saya, bahwa saya insya Allah  sehat dan tidak kena covid. Terimakasih teman yanag baik hati menerima saya sesuai dengan ucapan saya bahwa saya ini sehat dan mantap.  Kami bertemu di hotel dan menyiapkan segala sesuatunya di hotel. Melihat kesiapan kegiatan workshop. Dan juga melunasi bayar membayar kegiatan workshop  untuk esok hari. Kami bertiga ketemu di hotel . Menandatangin surat perjanjian dengan nasabah koperasi. Lalu saya pulang menuju ke klinik di kota kami. Baru mau masuk ada  wa pribadi terdengar. Kubuka sebelum masuk ke klinik. Ternyata wa dari teman yang kerjanya di Puskesmas dan di wa mengatakaan bahwa hasil swab sudah keluar dan haslnya negative. Alkhamdulillah . Berkata adalah doa. Benar apa yang selama ini saya  rasakan saya sehat dan tidak ada gejala covid benar-benar hasil swab negatif. Lalu wa saya baca,  saya kirimkan   ke group keluarga dan ke teman yang besok mengikuti workshop . Hp   saya  tutup  dan  saya masukkan ke tas. Dan saya langsung masuk ke  klinik dan menunggu hasil swab tadi siang. Tak lama kemudian hasil dimasukkan ke dalam amplop oleh petugas . Saya menanyakan kepada petugas tentang hasilnya. Oleh petugas suruh membaca sendiri. Namun surat itu saya terima dan langsung saya masukkan ke dalam tas.  Batin mengatakan pasti hasilnya negatif. Saya  langsung pulang. Dan dengan PDnya hasil labotarium ini pasti juga negative..

Kurang lebih 15 menit saya sampai di rumah. Dan mengatakan bahwa keluarga semua bilang Alkhamdulillah. Benarkan Ucapan adalah doa. Jadi kita ini sehat. Ya sehat semua. Lalu surat dari klinik labotarium tadi saya buka dan benar hasilnya negatif. Alkhamdullilah. Walaupun  ada yang melukai  hati dengan kata yang tidak enak dirasakan.  Dan tempat  jalan yang saya lewati,   duduki  di sekolah semua di semprot dengan  antiseptin. Walaupun saya tidak tahu. Ada seorang teman laki-laki  yang menyuruh untuk  disemprot semuanya. Karena takut tertular oleh Covid yang saya bawa  katanya. Astagfirullah. Mendengar  saya pulang disemprot hati tambah hancur. Orang sehat dikatakan kena Conid-19. Ya Allah.  Inilah pengalaman yang betul-betul sangat menyakitkan  hati seumur hidupku. Dan sampai kapanpun saya  tidak  bisa   melupakan. Ya saya maklumi. Sekarang adalah masa Pandemi sudah setahun    Namun itu semua karena  takut dan tidak percaya dengan ucapan saya. Kalau saya ini sehat.   Maklumlah.

Kami bersyukur kepada Allah bahwa hati, rasa, pikir, jiwa dan raga  saya sehat. Benar-benar sehat . Semoga kita semua tetap selalu mematuhi protokol kesehatan dan saling menjaga diri tetap sehat. Dan semoga kita semua tetap diberikan perlindungan dari Allah SWT. Aamiin

 

Rifatun
Salam blogger


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rabu, 30 Juni 2021

Minggu, 4 Juli 2021

Sabtu, 5 Juni 2021